Panduan Memahami Dividen Investing Dari A Sampai Z Untuk Bursa Saham Indonesia

“Ngapain memilih dividen kalo cuan trading lebih besar”

“Cuan dari dividen investing berarti hanya 8% per tahun ya? Kecil sekali”

“Dividen investing itu hanya cocok buat yang duitnya gede. Kalo duitnya kecil ya enggak kaya-kaya”

“Dividen investing boleh menjual sahamnya enggak?”

“Hati-hati dividen trap di saham yang membagi dividen gede”

“Boleh enggak sih menjadi dividen investing tetapi juga menjadi value investor atau IPO hunter?”

“Apa itu DPR, dividen yield, saldo laba?”

“Kalo beli pas cumdate trus langsung dijual sorenya nanti dapat dividen enggak?”

“Ngapain ngejar dividen kalo nanti kena dividen trap harganya jadi turun?”

Apakah teman-teman sering melihat pertanyaan, opini atau komentar seperti di atas?

Jika iya teman-teman tidak salah karena memang nyatanya dividen investing ini merupakan tipe investasi yang paling membosankan tetapi yang capital gainnya relatif paling bisa diukur.

Kok bisa?

Simak terus artikelnya ya karena Dividen Investing ID akan mengupas tuntas berbagai hal dan sudut pandang tentang dividen investing agar teman-teman bisa memahami terkait dividen investing dengan lebih mendalam.

Berikut daftar isi dari artikel ini

A. Pengertian dividen investing

B. Tujuan dividen investing

C. Perbedaan Dividen Investing dan Dividen Hunter

D. Salah kaprah dividen investing

E. Istilah & rasio dividen investing

F. Karakteristik dividen investing

G. Strategi dividen investing

H. Kelemahan dan kelebihan dividen investing

I. Cara memilih saham untuk dividen investing di bursa saham Indonesia

J. Pertanyaan seputar dividen investing dari para netizen

A. PENGERTIAN DIVIDEN INVESTING

Pengertian dividen investing secara spesifik adalah tipe investing yang ingin hidup menggunakan hasil dari dividen saham dengan strategi sebagai berikut

1. berfokus ke saham yang membagi dividen yield DI ATAS 8% (Ini hukumnya WAJIB)

2. bukan mengejar CAPITAL GAIN atau cuan dari kenaikan harga saham

3. dividen yang diterima akan DIREINVESTASI KEMBALI ke porto untuk membeli kembali saham yang sama atau saham lain yang sesuai kaidah dividen investing (penjelasan terkait poin ini ada di bagian B. Tujuan Dividen Investing)

4. berharap dividen yield tahun mendatang akan membesar karena kinerja perusahaan naik (Awal mula target dividen yield >8% dan diharapkan setelah lebih dari 10 tahun dividen yield yang dihasilkan bisa menjadi 15% atau 20%)

Dari pengertian di atas tentu muncul beberapa pertanyaan

Kenapa membuat kaidah dividen yield 8%?

Ada banyak instrumen investasi seperti deposito, SBN, obligasi dll yang mempunyai yield per tahun 4% hingga 8%.

Investasi di atas relatif lebih aman dibanding investasi di saham karena fluktiatif saham lebih banyak sehingga sangat wajar jika menggunakan patokan dividen yield >8%.

Jika dibawah itu mending masuk ke instrumen non saham.

Namun kenapa mending ke saham karena di bursa saham ada 2 konsep yang tidak dimiliki instrumen lain

  1. Dividen bisa membesar dalam waktu beberapa tahun atau disebut dengan growth
  2. Harga saham bisa naik bahkan bisa multibagger

Sekarang masuk ke tujuan dividen investing

B. TUJUAN DIVIDEN INVESTING

Sering kami menemukan pernyataan berikut

“Dividen investing cocok untuk yang modal besar. Kalo modal kecil mending trading saja”

Pernyataan itu benar tapi tidak tepat. Berikut penjelasan singkatnya karena penjelasan lengkapnya bisa dibaca di artikel berikut 4 Tujuan Dividen Investing yang Wajib Kamu Pahami Sebelum Mulai — Tapi Tidak Pernah Diajarkan

Tujuan dividen investing ada 4 dan nantinya bisa terlihat di momen apa dividen investing harus mempunyai modal besar dan di momen apa dividen investing cukup pake modal Rp 100rb.

1. Dividen For Living

Konsepnya adalah hidup kita ditanggung semua oleh hasil dari dividen saham.

Jika hidup kita misal per bulan 10juta maka per tahun 120juta maka perlu modal kisaran Rp 1.5 miliar.

Dengan angka Rp 1.5 miliar maka bisa dihasilkan dividen Rp 120juta.

Disinilah perlu modal besar. Paham ya.

2. For Passive income

Nah berbeda dengan no 1 yang harus mempunyai modal besar. Untuk dividen for passive income ini semacam tambahan uang jajan saja.

Contoh jika punya modal Rp 100juta maka bisa didapat dividen per tahun Rp 8juta.

Rp 8juta inilah yang menjadi passive income yang bisa digunakan untuk jajan atau semacamnya.

Besar kecilnya modal tergantung passive income kalian butuh berapa.

Jika kalian ingin passive income belasan juta ya modalnya wajib mengikuti.

3. For Retirement

Seperti apa yang kami lakukan. Kami berharap di tahun 2045 kami akan mendapat uang pensiunan layaknya PNS yang dapat uang bulanan dari pemerintah.

Uang pensiunan kami didapat dari dividen saham yang sudah kami kumpulkan pelan-pelan sejak sekarang.

Disini tidak perlu modal besar tetapi juga sebaiknya realistis.

Misal jika tahun 2025 dibutuhkan Rp 10juta dan dengan menghitung dengan inflasi maka di tahun 2045 kira value Rp 10juta sama dengan kisaran Rp 26 juta.

Nah sebaiknya di tahun 2045 mempunyai modal yang sekiranya bisa digunakan untuk mendapatkan dividen sebesar Rp 26juta per bulan.

4. For Education

Jadi konsepnya adalah menabung agar saat anak membutuhkan dana pendidikan untuk membayar SPP atau uang gedung kuliah bisa diambilkan dari dividen saham yang dihasilkan.

Sekali lagi penjelasan yang lebih detail terkait tujuan dividen investing bisa dibaca di artikel berikut 4 Tujuan Dividen Investing yang Wajib Kamu Pahami Sebelum Mulai — Tapi Tidak Pernah Diajarkan

C. PERBEDAAN DIVIDEN INVESTING DAN DIVIDEN HUNTER

Ada tipe investasi yang menggunakan basis dividen sebagai acuan masuk ke sebuah emiten yaitu momentum investing spesifiknya adalah dividen hunter dan tentu saja dividen investing itu sendiri.

Dan banyak orang menganggap dividen investing dan dividen hunter mirip tetapi secara mindset sangat berbeda jauh.

Berikut ini perbedaan antara dividen investing dan dividen hunter.

Dividen Investing

  1. masuk kapan saja asal memenuhi syarat dividen yield >8%
  2. waktu menyimpan saham tidak terbatas (hold forever) asal poin no 1 terpenuhi dan kinerja meningkat
  3. fokus di dividen yang dibagikan
  4. fokus ke passive income atau uang pensiun dari dividen
  5. Opsinya akan hold forever selama kinerja masih sesuai

Dividen Hunter

  1. masuk saat-saat momen dividen akan dibagikan dengan berharap harga saham akan naik di momen cumdate (bisa beberapa minggu sebelumnya atau beberapa bulan sebelumnya)
  2. waktu menyimpan saham hanya beberapa minggu atau bulan karena setelah masa pembagian dividen selesai akan keluar dan masuk lagi ke emiten yang akan membagi dividen
  3. fokus ke capital gain akibat dari momentum pembagian dividen
  4. fokus ke penambahan capital gain
  5. keluar masuk saham selama emiten tersebut mau membagi dividen
  6. ikut mengambil dividen yang dibagikan tetapi setelah acara pembagian dividen selesai sahamnya akan dijual

Sudah paham ya perbedaan dividen investing dan dividen hunter

Sekarang lanjut ke bagian rasio-rasio atau istilah yang perlu diperhatikan sebagai seorang dividen investor

D. SALAH KAPRAH DIVIDEN INVESTING

Sering kami melihat di sosial media salah kaprah terkait dividen investing seperti

“Menjadi dividen investor kapan kayanya”

Jelas salah kaprah pertama yang membuat orang tidak berani menjadi dividen investor. Padahal konsep pengen cepat kaya di bursa saham tidak ada karena

  1. memang tidak ada sarana untuk menjadi cepat kaya di bursa saham.
  2. dividen investor adalah orang yang realistis. Masuk sebagai dividen investor memang tidak berniat mengejar capital gain walopun aslinya banyak dividen investor yang saham di portonya sudah multibagger..hehe

“Dividen investing harus modal besar”

Terkait konsep ini sudah dijawab di bagian tujuan dividen investing ya.

“Semua emiten yang membagi div yield >8% bisa dijadikan dividen stock”

Jawabannya tidak.

Ada banyak pertimbangan atau mitigasi risiko kenapa suatu saham bisa dijadikan sebagai dividen stock. Bukan hanya karena div yieldnya >8%. Artikel selengkapnya bisa dibaca disini Tidak Semua Dividen Yield 10% Layak Masuk Sebagai Dividen Investing

“Dividen investor tidak boleh menjual sahamnya”

Konsep sebenarnya sih memang sebaiknya jangan dijual karena fokus kita adalah hidup dari dividen dengan kondisi dividen yield tembus >20%.

Tapi ada momen dimana kita bisa menjual sahamnya ketika

1. Kinerja terus menurun (Komunitas Dividen Investing ID pernah menjual salah satu emiten yang kinerjanya harusnya naik malah turun terus menerus)

2. Harga sahamnya naik sangat signifikan karena isu bukan karena kinerja. Simak selengkapnya di artikel berikut Juallah Sahammu Jika Memang Perlu Dijual

3. Pengen dijual saja. Aturan main hanyalah sekadar aturan main tetapi kadangkala ada hal yang tidak bisa ditolerir dan silahkan saja untuk menjual sahamnya.

“Dividen investor pasti sukses”

Kalo 100% memang tidak mungkintetapi jika menyentuh 90% hampir pasti iya. Tapi juga ada momen amsyong dimana emiten yang riwayatnya membagi dividen dengan div yield >8% tiba-tiba menurunkan DPR atau bahkan tidak membagi dividen.

“Dividen – floating loss = 0”

Salah satu salah kaprah yang beredar di kalangan investor dimana menyamakan nilai dividen dengan floating loss sehingga hasilnya 0 bahkan minus.

Padahal dividen itu real cash yang masuk ke RDN sedangkan floating loss itu hanyalah potensi kerugian yang masih bisa naik dan masih bisa semakin turun.

Tapi bagi seorang dividen investor jelas floating loss lebih disukai karena berpotensi mendapatkan dividen yield semakin besar.

E. ISTILAH & RASIO DIVIDEN INVESTING

Dalam diskusi di grup Komunitas Dividen Investing, akan selalu muncul istilah seperti dividen yield, DPR atau dividen payout ratio, EPS, saldo laba dan lain-lain.

Teman-teman bisa join komunitasnya dengan cara klik Komunitas Dividen Investing

Kali ini Dividen Investing ID akan membahas lebih rinci berbagai rasio atau istilah tersebut agar teman-teman yang akan mengikuti dividen investing bisa lebih paham

1. Dividen investing, dividen stock dan dividen investor

Dividen investing adalah nama teknik investasi yang basisnya adalah dividen yang dibagikan oleh emiten setiap tahun (bisa 2x setahun, bisa 4x setahun)

Dividen stock adalah nama emiten yang cocok masuk ke dalam portofolio dividen investing

Dividen investor adalah orang yang menjalankan dividen investing

2. Tahun buku

Tahun buku adalah tahun berlangsungnya bisnis sebuah emiten.

Pembagian dividen yang dilakukan oleh emiten di tahun 2025 setelah RUPS berasal dari laba bersih keuangan tahun buku 2024.

3. Dividen interim, dividen final

Emiten akan membagi dividen. Ada yang 1 tahun sekali, 1 tahun 2x. Bahkan ada juga yang membagi sampai 4x dalam setahun

dividen smsm

Dividen interim adalah momen pembagian dividen saat tahun buku belum selesai dan biasanya dibagikan di bulan-bulan Agustus hingga Januari tahun berikutnya.

Dividen interim tidak diawali dengan adanya RUPS

Dividen final adalah momen pembagian dividen saat tahun buku sudah selesai dan sudah ada kepastian total laba bersih yang didapat. Biasanya pembagiannya antara Bulan Maret hingga Juli.

Dividen final diawali dengan adanya RUPS

4. Cumdate, Exdate

Cumdate adalah masa pembelian terakhir bagi seorang investor agar bisa mendapatkan dividen.

Exdate adalah hari pertama ketika seorang investor tidak bisa membeli saham untuk mendapatkan dividen.

5. EPS atau earning per share

EPS atau earning per share merupakan laba bersih perusahaan dibagi jumlah lembar saham yang beredar.

EPS ini yang nantinya akan menjadi pedoman bagi emiten dan kita untuk memprediksi besaran dividen yang akan dibagikan (Kita bisa memprediksi besaran dividen menggunakan EPS dan DPR)

Berikut ini EPS dari TOTL

rasio dividen investing

Contoh yang 2025 EPS TOTL Q1 Rp 22.22, EPS Q2 Rp 28.95

6. Dividen Payout Ratio atau DPR

Dividen payout ratio atau DPR merupakan persentase jumlah dividen yang akan dibagikan dari laba bersih per share.

Contoh EPSnya 100 dan dividen payout rationya 80% maka jumlah dividen yang dibagikan sebesar Rp 80.

Dividen Payout Ratio emiten rata-rata sama setiap tahun seperti ELSA kisaran 40%, TLKM kisaran 70% s/d 80% dsb

rasio dividen investing

Dividen payout ratio TOTL tahun 2025 96.35%, DPR TOTL tahun 2024 78.99%.

Kok geser ya? Di tabel tertulis 2025 DPRnya 73.29?

Iya jadi dividen tahun 2025 menggunakan laporan keuangan tahun buku 2024 atau bisnis yang dilakukan di tahun 2024.

Jadi cara baca lengkapnya

Dividen Payout Ratio TOTL dividen tahun 2025 yang berdasar tahun buku 2024 sebesar 96.35%.

Paham ya…

Selain EPS, DPR juga bisa dijadikan rasio untuk memprediksi dividen yang akan diberikan.

Teman-teman bisa menggunakan kalkulator dibawah ini

7. Dividen yield atau DY

Dividen yield adalah perbandingan antara besaran dividen dengan harga saham terbaru.

Contoh emiten AYAM membagi dividen Rp80 per lembar dan harga sahamnya saat ini Rp 1000 maka dividen yieldnya sebesar 8%.

Contoh saham KUDA membagi dividen Rp 60 dan harga sahamnya Rp 1000 maka dividen yieldnya 6%.

Ada semacam kaidah terkait dividen yield ini yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh para dividen investor

Jika besaran dividen NAIK dan harga saham NAIK maka div yield TETAP

Jika besaran dividen NAIK dan harga saham TETAP atau TURUN maka div yield NAIK

Jika besaran dividen TETAP dan harga saham NAIK maka div yield TURUN

Jika besaran dividen TURUN dan harga saham TETAP atau NAIK maka div yield turun

Jika besaran dividen TURUN dan harga saham TURUN maka div yield TETAP

rasio dividen investing

Dividen yield TOTL dengan besaran dividen tahun buku 2024 sebesar Rp 75 adalah 10.14% (angka 10.14% berasal dari 75 dibagi harga TOTL 740 berdasar harga penutupan tanggal 31 Juli 2025)

8. Saldo laba ditahan

Setiap tahun emiten akan membagi laba bersihnya menjadi 3 :

  • dana cadangan paling sedikit 20% dari modal (jika dana cadangan sudah memenuhi maka semua laba bersih bisa dibagikan sebagai dividen atau dibagi hanya 2 yaitu menjadi saldo laba dan menjadi dividen)
  • saldo laba ditahan (manajemen boleh membagi 2 antara saldo laba atau dibagikan semua menjadi dividen)
  • dividen

Nah rasio atau istilah saldo laba ini sebenarnya jarang digunakan.

Saldo laba ditahan adalah saldo laba milik emiten yang dikumpulkan setiap tahun jika emiten tersebut menghasilkan laba bersih.

Jika saldo laba positif maka emiten boleh membagikan dividen

Jika saldo laba negatif emiten tidak boleh membagikan dividen

Nah kadang emiten akan membagikan saldo laba ditahan ini sebagai dividen sehingga dividen emiten akan menjadi lebih besar.

Hal ini sudah dilakukan oleh TOTL di tahun 2023. Detailnya bisa dibaca disini Laba Bersih Hanya Rp 91,6 Miliar Tapi Dividennya Rp 341miliar. Kok Bisa?

Dimana bisa melihat saldo laba?

Di bagian ekuitas

ekuitas ipcc q2 2025

Contoh saldo laba ditahan IPCC Q2 2025 sebesar Rp 324.41 miliar.

Sudah paham ya terkait rasio dan istilah-istilah yang akan sering muncul di pembahasan Komunitas Dividen Investing

F. KARAKTERISTIK DIVIDEN INVESTING

Setiap tipe investasi mempunyai karakteristik dan strategi yang berbeda-beda.

Contoh seperti core investing akan memilih emiten yang memang sudah terbukti ampuh menghadapi gelombang ekonomi.

Atau misal value investing akan mencari saham yang harganya saat ini lebih murah dibanding harga wajar sahamnya atau istilahnya undervalue dan tentunya akan sabar menanti saham tersebut naik melebihi harga wajarnya atau sesuai harga wajarnya.

Dividen investing juga memiliki karakteristik yang perlu diketahui agar saat perjalanannya nanti bisa tetap fokus dan tidak gampang goyah.

Berikut ini karakteristik dividen investing :

1. Wajib mencari emiten yang memiliki dividen yield >8%

Poin no 1 ini hukumnya wajib dan alasannya sudah kami tulis di atas yaitu banyak instrumen investasi yang aman dengan bunga kisaran 8%.

Investasi saham relatif tidak aman sehingga kalo bisa mengejar imbal lebih tinggi atau bahasa lebih mudahnya high risk high return.

Tapi teman-teman juga wajib membaca artikel berikut agar tau juga bahwa tidak semua emiten yang memiliki dividen yield >8% layak masuk sebagai dividen stock Tidak Semua Dividen Yield 10% Layak Masuk Sebagai Dividen Investing

2. Karena fokusnya di dividen maka perjalanan investasinya akan sangat membosankan

Jangan ditanya bosannya seorang dividen investor karena tidak setiap hari transaksi atau bahkan bisa dalam 1 minggu tidak melakukan apapun. (Saya rata-rata 1 bulan hanya 2 sampai 3x membeli saham)

3. Harus tahan dari godaan market seperti cuan cepat dari IPO investing atau pindah ke momentum investing.

Sebenarnya bisa saja dalam 1 portofolio memiliki saham yang mindsetnya untuk value investing, growth investing dan bahkan trading pun boleh.

Dividen Investing istilahnya menjadi pondasi bagi portofolio kita.

Tapi sekali lagi jika banyak masuk ke berbagai tipe, fokus harus dijaga.

Jangan sampai sudah niat dividen investing terus saat harganya naik sedikit dijual atau saat harganya turun malah dicutloss.

Tapi kabar gembiranya ada emiten yang bisa masuk sebagai dividen investing tetapi masih bisa juga masuk sebagai core stock. Cek artikelnya Mencari Core Stock Bagi Dividen Investor? Begini Caranya

4. Kenaikan porto per tahun yang didapat menjadi terukur karena hampir pasti 8%.

Apakah bisa turun?

Bisa saja kalau emiten tiba-tiba menurunkan dividennya atau DPRnya atau malah tidak membagi dividen.

Ada emiten yang sehat, tiba-tiba tidak membagi dividen

5. Tidak terjebak dividen trap

Banyak yang menganggap seorang dividen investor terkena dividen trap sehingga muncul rumus abal-abal seperti di bawah ini

Dividen – dividen trap = 0

Orang yang mengatakan rumus seperti di atas belum menjadi dividen investor.

Padahal jika dipahami secara mendalam seorang dividen investor tidak akan terjebak ke dalam dividen trap.

Kok bisa?

Simak disini ya karena kami sudah menulis secara lengkap Tidak Ada Dividen Trap Bagi Dividen Investor & Siapa Yang Kena Dividen Trap

6. Bukan sarana mempercepat kekayaan tetapi sebagai passive income atau uang pensiun di masa depan

Banyak di luaran sana membandingkan potensi cuan dividen investing dibandingkan dengan trading atau IPO hunter atau dividen hunter.

Padahal semua di atas fokusnya capital gain melalui penjualan sahamnya sedangkan dividen investing berfokus memelihara atau hold sahamnya agar setiap tahun bertelur.

Dividen Investing ID sudah menulisnya di artikel berikut Kalo Bisa Dapat Capital Gain per Tahun 20% Ngapain Nungguin Dividen 10%

7. Tidak hanya modal besar, modal kecilpun boleh

Banyak yang mengatakan dividen investing itu harus menggunakan modal besar. Modal kecil sebaiknya tidak mengambil tipe investasi ini.

Menurut kami ini salah kaprah.

Yang pertama diketahui adalah tujuan dari dividen investing.

Jika dia ingin mengejar for living untuk hari ini maka harus menggunakan modal besar.

Tapi jika dia memang untuk mempersiapkan uang pensiun di hari tua TANPA KITA BEKERJA maka dividen investing dengan modal kecil boleh. Atau bahasa gampangnya menabung dan compounding dividen agar di tahun X bisa hidup dari pensiun.

Contoh saya ingin mempunyai uang Rp 1 miliar di tahun 2045. Nah saya nabung pelan-pelan semisal Rp 2juta per bulan.

Dengan bantuan dividen dan compounding maka bisa saja Rp 1 miliar akan tercapai sebelum 20 tahun.

Hah kok lama?

Iya karena dividen yang bekerja uangnya bukan orangnya. 

Kalo gitu mending ditradingkan saja atau dividen hunter?

Enggak. Kalo milih trading atau dividen hunter artinya kita yang aktif bekerja bukan uang kita.

Paham ya untuk poin no 7 ini

G. STRATEGI DIVIDEN INVESTING

Menjadi seorang dividen investor juga perlu strategi khusus seperti para tipe investor atau trader.

Dan berikut strategi yang harus dilakukan oleh seorang dividen investor.

1. Selalu pantau kinerja emiten 

Fokus dividen investing adalah dividen. Dan dividen adalah hasil terakhir dari perjalanan bisnis sebuah emiten.

Dari neraca, penjualan, laba bersih, jumlah lembar saham dan terakhir dividen yang dibagikan.

Jika penjualan atau laba bersih meleset hampir pasti nominal dividen akan berubah.

Jika penjualan dan laba bersih naik kemungkinan dividen naik

Tapi jika penjualan dan laba bersih turun maka dividen turun bahkan tidak membagi dividen.

2. Jarang bertransaksi keluar masuk saham

Seorang dividen investor ibarat sniper yang fokus ke emiten yang memiliki div yield >8% dan akan jarang keluar masuk saham.

Opsi kegiatan tersering justru malah membeli di saat harga saham pilihannya turun agar bisa mendapat dividen yield yang lebih besar.

Jika ada seorang dividen investor yang membeli saham saat momen mau membagikan dividen dan ketika mau cumdate dijual itu bukan dividen investor tetapi dividen hunter.

3. Mitigasi risiko lebih dulu dibanding mengejar div yield besar

Ada banyak emiten yang sebenarnya membagi div yield >8% tapi tetap tidak boleh dibeli karena berbagai hal seperti one season dividen, kinerja terus menurun, pembagian dividen menggunakan saldo laba, harga terlalu tinggi dll.

Sebagai bentuk mitigasi risiko, Komunitas Dividen Investing ID menggunakan konsep yang disebut Harga Panggilan. Terkait Harga Panggilan dibahas di bagin I. Strategi memilih saham

4. Sabar

Seorang dividen tentu saja jarang bertransaksi saham karena memang harus sabar dengan berbagai situasi.

Kadang tergoda ikut IPO hunter

Kadang tergoda ikut saham konglo

Kadang tergoda taking profit

Kadang tergoda membeli saham yang div yieldnya 7.5%

H. KELEMAHAN & KELEBIHAN DIVIDEN INVESTING

Setiap tipe investasi atau bahkan trading ada sisi kelemahannya masing-masing dan berikut ini sisi kelemahan jika teman-teman menggunakna teknik dividen investing

1. Membosankan

Jelas sangat membosankan.

Di tengah hiruk pikuk bursa saham apalagi ketika ada momen IPO, para dividen investor hanya diam menunggu dividen yang akan dibagikan oleh emiten. Padahal semua tahu dividen hanya dibagikan 1 s/d kali setahun.

2. Penantian sia-sia jika besaran dividen turun atau malah tidak membagikan dividen

Dividen menjadi kunci utama tipe dividen investing dan jika yang dinanti ternyata menurun atau bahkan tidak ada maka sia-sialah penantiannya.

Memang ada banyak alasan dari emiten terkait menurunnya dividen seperti kinerja yang menurun atau DPR yang memang diturunkan.

Tapi bagi kita tentu apapun alasannya jelas menjadi kerugian. Beda dengan para growth investor yang bahkan lebih rela uang kas emiten untuk growth perusahaan dibanding dibagi sebagai dividen.

3. Tidak bisa digunakan untuk mencari kekayaan

Ya jika seorang investor masuk ke tipe dividen investing maka jangan harap bisa digunakan untuk menambah kekayaan.

Jika fokusnya ingin menambah modal atau menambah kekayaan maka saran kami lebih baik masuk ke trading atau investing tipe lainnya.

Dividen investing hanya cocok untuk orang-orang yang ingin mendapatkan passive income atau untuk uang pensiun di masa senja.

4. Kalah cepat dengan kenaikan harga saham yang turn around atau growth

Dividen investing patokan utamanya adalah div yield WAJIB >8% sehingga jika emiten tersebut sebagus apapun potensi kinerja (turn around) atau sebagus apapun growthnya tidak boleh dibeli jika div yield belum ada >8%.

Momen seperti ini yang beberapa kali membuat seorang dividen investor seperti ketinggalan kereta.

I. CARA MEMILIH SAHAM UNTUK DIVIDEN INVESTING DI BURSA SAHAM INDONESIA

Cara memilih saham bagi seorang dividen investor itu bukan menggunakan

  • PER PBV
  • Graham Number
  • atau valuasi lainnya

Tetapi hanya menggunakan screening awal berupa dividen yield >8%.

Dividen yield 8% itu berguna sebagai

  • valuasi harga saham. Cth jika div yield hanya 6% artinya harganya kemahalan
  • membuktikan bahwa emiten mempunyai laba bersih sungguhan (tapi tetap dipantau ya dividennya berasal dari laba bersih atau jualan aset atau pake saldo laba ditahan)

Apakah setiap emiten yang membagi div yield >8% langsung dibeli? Belum tentu karena ada banyak faktor.

Komunitas Dividen Investing ID memperkenalkan konsep Harga Panggilan yaitu suatu angka yang dihasilkan dari kombinasi

  1. Dividen yield
  2. DPR/ Dividen Payout Ratio
  3. Kinerja perusahaan
  4. Kondisi perusahaan
  5. Makro dan mikro ekonomi
  6. Kinerja saham

Artikel selengkapnya langsung bisa dibaca disini Harga Panggilan = Mitigasi Risiko Ala Dividen Investing ID

J. PERTANYAAN SEPUTAR DIVIDEN INVESTING DARI PARA NETIZEN

Banyak pertanyaan yang muncul dari berbagai diskusi yang kami lakukan.

Berikut beberapa pertanyaan yang sering diajukan dan didebatkan

1. Apakah dividen investing tidak membolehkan harga sahamnya naik?

Tentu saja sangat boleh harga dividen stock naik.

Cuma memang kalo harga sahamnya naik maka potensi kita membeli saham tersebut di harga bawah menjadi berkurang.

2. Kok harga saham dividen investing semuanya stagnan ya? Kalo gitu buat apa?

Sebenarnya dengan harga stagnan malah menjadi peluang bagi seorang dividen investor untuk terus mengkoleksi sahamnya.

Teman-teman bisa baca artikel ini lebih lanjut Gimana Kalo Harga Saham Dividen Stock Saya Tidak Naik?

3. Kalo harga sahamnya sudah naik apakah seorang dividen investor boleh menjual sahamnya?

Ya boleh saja.

Uang hasil penjualan ini bisa dibelikan dividen stock lainnya atau untuk menambah emiten yang sudah ada di portofolio.

Kami sudah menulis lengkap tentang 7 Alasan Dividen Investor Menjual Sahamnya

4. Kapan waktu membeli dividen stock?

Membeli dividen stock sebaiknya saat emiten tersebut

  • memiliki dividen yield >8%
  • kinerja perusahaan naik atau stabil
  • jika kinerja turun maka perhatikan potensi dividen yang diberikan apakah masih memenuhi kaidah >8% per tahun atau tidak

Dividen Investing ID sudah membuatkan artikel lengkap terkait waktu membeli dividen stock. Simak 4 Waktu Membeli Saham Yang Tepat Bagi Dividen Investor

5. Bagaimana jika ternyata setelah cumdate harganya turun alias terkena dividen trap?

Dividen trap itu hanya bagi tipe investing yang berharap cuan karena adanya momen dividen.

Sedangkan dividen investing tidak berfokus ke naik turunnya harga saham sehingga konsep dividen trap tidak ada.

Simak selengkapnya Tidak Ada Dividen Trap Bagi Dividen Investor & Siapa Yang Kena Dividen Trap

6. Berapa porto dividen investing yang baik?

Sebenarnya fokusnya bukan di jumlah tetapi kemampuan kita untuk maintenance saham-saham yang ada.

Tapi jika harus memilih mending maksimal 10 saham.

Semoga artikel terkait porto dividen investing ini bisa membantu Berapa Banyak Saham Di Portofolio Dividen Investing?

7. Saya pernah baca bahwa enggak semua emiten yang memiliki dividen yield >8% boleh dibeli. Kok bisa?

Itu benar bahwa kaidah pertama dividen investing adalah memilih saham yang memiliki dividen yield >8%.

Tapi jika ditelusuri lebih lanjut ternyata tidak semua emiten yang memiliki div yield >8% pantas untuk dimasukkan ke porto karena memiliki beberapa hal seperti

  • dividen yang dibagikan anomali
  • dividen besar karena saldo laba

8. Jika saham saya sudah multibagger, apakah sebaiknya dijual atau dihold?

Sebenarnya teman-teman dividen investor bisa saja menjual sahamnya jika memang sudah mutlibagger tetapi disarankan tetap hold karena

  • Dijual jika kenaikan harga sahamnya sudah diluar kontrol (biasanya naik karena isu bukan karena kenaikan kinerja yang bertahap)
  • Tetap dihold jika kenaikan harga saham diikuti dengan kenaikan kinerja. Dan kenaikan kinerja biasanya diikuti dengan kenaikan div yield sehingga jikapun tidak menjual sahamnya kita bisa mendapatkan div yield >20% dengan kondisi kita juga masih keep sahamnya dengan floating profit multibagger.

Teman-teman bisa membaca lebih lengkap disini Tidak Semua Dividen Yield 10% Layak Masuk Sebagai Dividen Investing

Itulah artikel panduan memahami dividen investing bagi pemula maupun senior.

Artikel ini akan terus diperbaharui sebagai guide bagi para dividen investor.

Jika teman-teman sudah yakin dan ingin menjadi seorang dividen investor maka perlu komunitas untuk saling support.

Teman-teman bisa join Komunitas Dividen Investing

Visited 480 times, 1 visit(s) today

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *