Juallah Sahammu Jika Memang Perlu Dijual
Dalam bursa saham tidak ada hal pasti, baik yang sifatnya positif maupun negatif.
Kali ini kami akan membahas sesuatu yang sifatnya positif.
Ya seorang dividen investor akan keep saham jika semua tesisnya berjalan seperti
- dividen yield selalu di atas >8% atau 10%
- kinerja perusahaan stabil meningkat
- kinerja saham meningkat berdasarkan peringkatan kinerja perusahaan yang seharusnya diikuti kenaikan besaran dividen
Namun ada 1 momen dimana tesis tersebut bisa saja dibatalkan jika kondisinya adalah tiba-tiba harga saham yang dipegang naik sangat signifikan sehingga membuat potensi capital gainnya jauh-jauh lebih tinggi dibanding dengan dividennya dalam jangka waktu 10 tahun.
Dan hal ini banyak ditanyakan oleh teman-teman di Komunitas Dividen Investing dimana pertanyaannya
“Jika saham sudah bagger sebaiknya tetap dikeep atau dijual saja dan cari saham lain?”
Jawabannya adalah
- Jika kenaikan harga saham karena kenaikan kinerja sehingga dividen naik maka tetap keep saja
- Jika kenaikan harga saham belum diikuti oleh kenaikan kinerja maka sebaiknya dijual
Apakah sudah paham dengan 2 poin di atas?
Kalo belum yuk dilanjut…
Jika kenaikan harga saham karena kenaikan kinerja sehingga dividen naik maka tetap keep saja
Momen paling ideal bagi seorang dividen investor adalah membeli di harga bawah kemudian kinerja naik.
Ketika kinerja naik maka dividen yang dibagikan naik.
Ketika dividen naik maka pelan-pelan kinerja sahamnya naik.
Contoh yang mendekati konsep ini adalah TOTL.
Berikut kinerja TOTL sejak 2018

Kinerja pendapatan dan laba bersih TOTL pelan-pelan naik (kecuali tahun pandemi ya).
Imbasnya adalah dividen yang dibagikan juga mengikuti kenaikan laba bersihnya
(Terima kasih manajemen TOTL. Salah satu seni berinvestasi adalah memilih manajemen yang baik. Manajemen yang baik akan memperhatikan investornya dengan cara membagi dividen sesuai dengan kinerja perusahaannya)
Berikut dividen TOTL

Tahun 2020 dan 2021 hanya Rp 10. Tahun 2022 naik menjadi Rp 25.
Tahun 2023 kejutan menjadi Rp 100 karena menggunakan saldo laba ditahan. Baca disini TOTL : Beli Enggak, Beli Enggak
(Jika teman-teman baca Stock Guide di tahun 2023 dan sekarang masih keep saham TOTL maka kami mengucapkan selamat ya…Tapi sayangnya kami pun melakukan kesalahan. Simak kesalahan kami disini 2 Kesalahan Saya Sebagai Dividen Investor. JANGAN DITIRU
Tahun 2024 Rp 40 dan tahun 2025 Rp 75.
Kenaikan kinerja diikuti dengan kenaikan dividen.
Bagaimana dengan sahamnya?

Pelan-pelan naik dari Rp 278 karena pandemi menjadi Rp 765.
Inilah realitas paling ideal yang dimiliki oleh seorang dividen investor dimana kita beli di harga bawah misal Rp 300 kemudian mendapat dividen Rp 40 di tahun 2024 yang artinya div yieldnya 13.3%.
Di tahun 2025 mendapat dividen Rp 75 atau dividen yield 25% tanpa melakukan apapun.
Capital gainnya?
Jika membeli di harga Rp 300 maka di harga saat ini sudah bagger.
Itulah kondisi paling ideal.
Namun sesuai dengan judul di atas “Juallah Sahammu Jika Memang Perlu Dijual”.
Ada kondisi dimana harga saham naik signifikan karena berbagai sentimen yang datang tetapi bukan datang dari kinerja.
Contohnya saham PBSA

Dalam rentang 1 tahun harga saham PBSA naik 216% karena sentimen kinerja sawit.
Apakah kinerjanya naik signfikan?

Iya tetapi tidak sesignifikan itu jika dibanding kinerja sahamnya. Kecuali kalo PBSA annualised kinerjanya jadi Rp 2 triliun ini ceritanya akan beda.
Imbasnya adalah
1. dividen yield akan menurun.
2. jika kinerja saham tidak diikuti kinerja perusahaan maka bisa saja pelan-pelan harga sahamnya akan turun. Apalagi ketika isu pendorongnya sudah selesai
Nah poin no 2 inilah yang membuat kami membuat artikel ini.
Jika kenaikan saham bukan karena kenaikan kinerja maka yang perlu diwaspadai adalah penurunan harga saham.
Jika harga saham turun, maka floating profit akan turun
Jika floating profit turun, maka mental bisa kena
Biar mental tidak kena atau terganggu maka jual saja sahamnya.
Tapi kan bisa saja nanti manajemen membagi dividen jumbo biar dividen yieldnya setara?
Bisa-bisa saja. Tapi dapatnya enggak akan sebesar ketika harga sahamnya dijual kan…
Paham ya arahnya?
Jadi untuk membuat mental tetap baik, ketika ada saham dividen stock yang dipegang naik signifikan bukan karena kinerjanya tetapi karena isu maka dijual saja.
Sebenarnya ada 1 saham lagi yang terkena sentimen juga dan harganya naik signifikan yaitu ANTM.
Berikut kinerja saham ANTM dalam 1 tahun terakhir

Bagaimana kinerja ANTM?

Kinerja ANTM ada potensi naik 100% dan satu lagi bahwa kinerja emas sebagai sentimen pendukungnya lebih stabil dibanding sentimen kinerja sawit.
Potensi ANTM membagi dividen 2x lipat masih besar apalagi jika DPRnya 100%.
So…kesimpulannya adalah
Jika kenaikan harga saham yang SIGNIFIKAN tapi tidak dibarengi dengan kenaikan kinerja perusahaan mending jual saja.
Jika kenaikan harga saham yang SIGNIFIKAN tetapi dibarengi dengan kenaikan kinerja perusahaan yang signifikan maka hold masih bisa menjadi opsi.
Saya bingung..
Biar tidak bingung silahkan join Komunitas Dividen Investing
Apa sih manfaat join Komunitas Dividen Investing?
1. Tips dan Trik Investasi Dividen Jangka Panjang ✅
2. Diskusi Saham Dividen ✅
3. Akses ke 25 List Saham Dividen Yield >8%, potensi dividen 2026 & Jadwal Dividen ✅
4. Mentoring & Tanya Jawab Langsung Bareng Founder Stock Guide ✅
5. Saling mengingatkan saat plan mulai goyah ✅
6. Evaluasi per semester✅
7. Konsultasi Porto Dividen Investing
bagaimana dengn pendapat yang menyatakan bahwa hal yang paling tidak penting dalam saham adalah DIVIDEN?
Semua boleh berpendapat Pak
Yang paling penting kembali ke masing-masing