7 Alasan Dividen Investor Menjual Sahamnya
Dividen Investing ID (DIVI ID) akan selalu mengingatkan bahwa poin utama yang WAJIB dikejar saat menjadi dividen investor adalah memilih emiten yang memiliki dividen yield di atas 8%.
Nah kami sudah membuat artikel tentang kapan waktu beli saham bagi dividen investor.
Artikelnya bisa dibaca disini 4 Waktu Membeli Saham Yang Tepat Bagi Dividen Investor
Kali ini kami akan menulis apakah seorang dividen investor boleh menjual sahamnya baik mau take profit atau cutloss?
Ide artikel ini muncul setelah ada salah satu anggota komunitas yang bertanya seperti di bawah ini

Teman-teman bisa join Komunitas Dividen Investing Terbesar dengan cara klik KOMUNITAS DIVIDEN INVESTING
Bukan Dividen Investing ID donk kalo enggak membahas dengan gamblang dan semoga mudah dicerna bagi para investor baik investor pemula maupun investor yang sudah berpengalaman namun ingin mendapat POV yang berbeda.
Di bawah ini ada beberapa alasan bagi dividen investor untuk menjual sahamnya baik posisi floating profit maupun floating minus
1. Kinerjanya melambat
Sudah diterangkan bahwa indikator WAJIB bagi seorang dividen investor adalah div yield minimal 8%.
Div yield 8% didapat dari kombinasi antara harga saham dan EPS.
Kita tidak akan membahas harga saham dulu tetapi akan membahas dari sisi EPS dulu.
EPS adalah laba bersih dibagi jumlah lembar saham. Jika penjualan menurun laba bersih bisa turun atau bisa juga naik tetapi kebanyakan akan ikut turun.
Jika emiten yang kita hold ternyata penjualan maupun laba bersihnya di kuartal tersebut turun maka kita sudah wajib membunyikan alarm pertama untuk waspada.
Pertanyaannya berapa lama atau berapa kali kinerja turun baru kita menjual sahamnya baik take profit maupun cutloss?
Tidak ada patokan yang pasti sih tetapi mungkin patokan di bawah ini bisa menjadi acuan
1. Saat kuartal tersebut turun
Misal seperti laporan keuangan PBID yang di Q1 2025 turun jika dibanding q1 2024.
Walopun disisi lain masih naik dibanding Q4 2024

2. Saat dalam 1 full year semua kuartal turun
Ini adalah alarm berikutnya ketika dalam 1 tahun full semua kuartal menurun.

Perhatikan gambar kinerja UNVR di atas, dimana dalam 1 tahun laba bersihnya pelan-pelan turun.
Dengan melihat kinerja seperti itu harusnya sih kita main aman dan langsung menjual sahamnya untuk take profit atau cutloss.
Oh ya kami juga sudah pernah menulis artikel bahwa investor apapun jenisnya boleh saja cutloss. Simak disini ya
Bolehkah Investor Cutloss? Dan Bagaimana Langkahnya?
Bonus cerita kami saat cutloss Cerita Tentang Liku-Liku Saham : 5 Cutloss Terbesar Yang Saya Lakukan
3. Saat dalam 2 tahun terus menurun
In adalah alarm terakhir dan mungkin saja kita sudah telat jika mau take profit atau cutloss.
Di poin no 2 statusnya adalah kinerja dalam 1 tahun menurun. Kita bisa saja masih berharap untuk bisa naik di tahun berikutnya ya.
Tapi kalo di poin ini adalah ketika kinerja perusahaan sudah menurun dalam waktu 2 tahun berturut-turut. Lihat laba bersih GGRM di bawah ini

Di momen ini wajib langsung dijual apapun kondisinya.
Tapi inilah beratnya saham…Kita juga harus berlari berbarengan dengan penurunan harga sahamnya.
Lihat kinerja saham UNVR

Dan ini kinerja saham GGRM

Jika ada momen kinerja melambat maka langkah yang perlu kita lakukan
1. mempelajari kenapa kinerja menurun
Contoh emiten ANTM dulu kinerjanya turun karena ada surat ijin yang tidak keluar dan begitu suratnya keluar kinerjanya melesat lagi.
Atau juga karena ada kompetitor baru dengan harga yang lebih murah seperti GGRM yang dihadang oleh cukai dan rokok ilegal.
Atau karena behavior masyarakat yang berubah.
2. menunggu kuartal berikutnya hingga full year
Ada kalanya emiten itu memiliki musim yang buruk seperti emiten rokok yang di musim Ramadhan menurun karena banyak yang siang-siang tidak merokok.
Emiten obat yang saat musim kemarau penjualannya lebih rendah dibanding saat musim penghujan
Jadi memang tugas dividen investor adalah memantau Laporan Keuangan per kuartal kemudian mencocokkan dengan berbagai sumber seperti dari annual report, public expose, keterbukaan informasi atau media-media mainstream.
Nah ada momen yang sebenarnya riweh tapi nyatanya terjadi dan bahaya yaitu jika
- Q1 2025 turun dibanding dengan Q1 2024
- Q1 2025 turun dibanding Q4 2024
maka harganya langsung turun sehingga membuat kita sedikit waswas apakah penurunan ini akan berlanjut atau hanya sementara.
Ribet ya….hihihi
Nah pertanyaannya bagaimana dengan UNVR, GGRM atau SIDO? Disclaimer dulu ya kalo emiten yang digunakan buat contoh itu bukan watchlist dividen investor karena div yieldnya <8%.
Contoh UNVR

Jika melihat data penjualan sebaiknya mulai dijual tahun berapa?
Sekilas di tahun 2023 seharusnya sudah ada alarm
Atau karena semua tau UNVR mendapat sentimen boikot maka ketika isu boikot meluas sudah pasang alarm.
Kami sudah membahas UNVR cukup banyak dan bisa disimak di artikel berikut
- UNVR Q1 2025 : Perbandingan Yang Tidak Tepat, Kita “Penyebabnya” & Potensi Yang (Tidak) Ada
- Membahas ROE UNVR Yang Tembus Di Atas 100%. Apakah Seistimewa Itu?
- Mengapa UNVR “LONGSOR” & 3 Solusi Buat Investor Yang Nyangkut Di UNVR
- Siapakah Yang Membuat Harga UNVR Terus Menurun?
Apakah SIDO ada tanda-tanda kinerjanya menurun?

Jika sekilas melihat kinerja tahunan sepertinya kita hanya perlu waspada saja karena nyatanya kinerjanya masih naik turun.
Walaupun memang jika melihat per kuartal di Q1 2025 merupakan kuartal terendah sejak 2021.

2. Perubahan besaran Dividen Payout Ratio (DPR) yang signifikan yang berpengaruh ke besaran dividen
Nah poin no 2 yang sangat perlu dipertimbangkan dimana faktor dividen selain harga saham, EPS juga DPR atau dividen payout ratio alias besaran persentase dividen yang dibagikan berdasar jumlah laba bersih.
Jika DPR 80% artinya dari total laba bersih ada 80% yang dibagikan sebagai dividen.
Kemaren ELSA mengubah DPRnya dan untung saja nominal akhirnya masih bisa memberi div yield 8%.
Contoh yang mengubah DPR dengan signifikan adalah MBAP

Bisa dilihat DPR tahun 2022 dan 2023 90% dan 114% sedangkan DPR tahun 2024 hanya 15.40%.
Tapi besaran DPR ini sudah Stock Guide prediksi di artikel ini MBAP : Selamat Tinggal Batubara Dan (Dividen)
Jika situasinya demikian maka mau tidak mau langkahnya adalah mencari info alasan manajemen mengubah besaran dividen payout ratio.
Jika sekiranya alasan manajemen bisa diterima maka bisa tetap hold.
Namun jika memang manajemen mengubah arah bisnis ya mau tidak mau harus dijual.
3. Makro ekonomi yang berubah
Terkait makro ekonomi kadang bisa langsung terlihat kadang tidak tapi kalo melihatnya dari sisi harga saham biasanya imbasnya signifikan.
Contoh emiten batubara. Jika sampe div yield di bawah 8% harusnya jual dulu
Contoh emiten ELSA yang naik karena adanya sentimen perang yang membuat harga minyak naik.
Tapi ingat makro ekonomi ini yang memang bisa mengubah kinerja perusahaan ya alias menjadi company risk bukan karena market risk.
Contoh paling gampang memang di emiten batubara.
Pas harga acuan tembus $400 maka dividen dari emiten batubara sangat tinggi. Namun ketika harga acuan batubara hanya kisaran $110 maka dividennya tentu akan jauh lebih rendah.
Di momen ini pastikan emiten masih memberi div yield >8%. Jika tidak mending dijual terlebih dahulu.
Tapi kan seharusnya malah momen untuk mengumpulkan? Itu bukan untuk dividen investor.
4. Ada emiten yang lebih menarik secara yield dan growth
Ketika semua aman tapi ternyata ada yang lebih menarik boleh enggak dijual?
Ya boleh saja. Pastikan antara div yield dan growth.
Kalo pertimbangannya hanya yield aja takutnya hanya one season dividen seperti saham MERK yang tiba-tiba membagi dividen sangat jumbo padahal growthnya biasa saja.
Setelah ditelusuri eh yieldnya menarik karena dividen yang dibagikan sangat besar sebagai konsekuensi sudah menjual asetnya.
Sebenarnya di momen seperti ini lumayan cocok mengumpulkan emiten batubara yang secara historis ketika momen jelek saja masih bisa membagikan div yild >8% apalagi ketika harga acuan batubara naik menjulang.
5. Perubahan arah bisnis
Nah faktor ini jelas harus membuat kita terus menganalisa secara mendalam.
Perubahan arah bisnis tentu saja sangat signifikan dan bisa berimbas ke harga saham yang turun, penjualan turun, laba bersih turun, DPR turun, nominal dividen turun hingga dividen yieldnya turun
Kami pernah mengulas saham MBAP di artikel ini MBAP : Selamat Tinggal Batubara Dan (Dividen)
Siap-siap holder ADRO ya
6. Mencari dana tambahan
Poin no 6 yaitu alasan menjual saham adalah karena mencari dana tambahan.
Sah-sah saja seorang dividen investor menjual sahamnya untuk mencari dana tambahan yang digunakan untuk menambah modal di emiten lain.
Contoh menjual saham LPPF untuk mulai mengumpulkan saham batubara. Ini hanya contoh ya.
Kinerja LPPF aman-aman saja, div yield sangat ok, tetapi karena perlu dana tambahan untuk mulai mengumpulkan lot di batubara maka LPPFnya dijual. Simak Memahami LPPF Berdasar LK Q1 2025
Tapi sekali lagi perlu diingat bahwa emiten yang dibeli harus lebih baik dibanding emiten yang dijual.
7. Merealisasikan keuntungan
Di poin no 7 sudah tidak ada alasan dari sisi emiten.
Sebagai investor boleh saja kok untuk merealisasikan keuntungan apalagi jika portofolio sudah cukup.
Contoh emiten yang dihold sudah bagger, jika dihitung secara sederhana maka per tahun anggap saja sudah cuan 10% artinya dengan kita menjual saham yang sudah bagger maka sama saja sudah menghemat 10 tahun atau bisa lebih cepat.
Tidak masalah.
Sudah paham ya teman-teman?
Sudah paham kan?
Kalo belum silahkan join Komunitas Dividen Investing
Apa sih manfaat join Komunitas Dividen Investing?
1. Tips dan Trik Investasi Dividen Jangka Panjang ✅
2. Diskusi Saham Dividen ✅
3. Akses ke 25 List Saham Dividen Yield >8%, potensi dividen 2026 & Jadwal Dividen ✅
4. Mentoring & Tanya Jawab Langsung Bareng Founder Stock Guide ✅
5. Saling mengingatkan saat plan mulai goyah ✅
6. Evaluasi per semester✅
7. Konsultasi Porto Dividen Investing✅