Harga Panggilan = Mitigasi Risiko Ala Dividen Investing ID

“Harga saham BBRI sudah kisaran Rp 3000 dan sudah turun jauh dari harga ATH di 6000an. Apakah sudah boleh masuk? Atau nunggu lagi”

“Eh kok saham BMRI naik, kemaren belum sempat beli e, beli di harga sekarang di angka 4200 boleh enggak?”

“Pengen beli saham ASII di kisaran 6000, tapi apa ini harga pucuk ya?”

Sering kami melihat utas seperti di atas.

Menurut kami utas atau pertanyaan di atas menunjukkan bahwa seorang investor belum mempunyai patokan berapa harga suatu saham boleh dibeli.

Kalau value investing ada istilah harga wajar atau fair price misal harga fair pricenya 1000 dan saat ini 800 maka masih bisa dibeli. Tapi jika sudah 1100 sudah tidak boleh dibeli

Ada aliran investasi lain menggunakan potensi growth atau rumus PEG ratio atau Price/Earnings to Growth.

Bagaimana dengan seorang dividen investor utamanya Komunitas Dividen Investing ID?

Kami mempunyai konsep yang disebut Harga Panggilan.

Dalam artikel ini kita akan membahas secara tuntas terkait Harga Panggilan dengan daftar isi sebagai berikut

  1. Definisi Harga Panggilan
  2. Mitigasi risiko
  3. Faktor naik turunnya Harga Panggilan
  4. Cara menentukan Harga Panggilan

Yuk disimak pelan-pelan ya.

1. Definisi Harga Panggilan

Harga Panggilan ini adalah hasil perhitungan subjektif dari kami selaku Founder Komunitas Dividen Investing ID sebagai bentuk mitigasi risiko. Apa saja mitigasi risiko yang perlu diperhatikan oleh seorang dividen investor sebelum membeli saham?

1. potensi penurunan kinerja perusahaan

2. potensi penurunan dividen (karena DPR yang berkurang atau memang karena no 1)

3. potensi tidak membagikan dividen (apapun alasan manajemen)

4. valuasi saham (agar tidak beli di harga pucuk)

Setelah tau pengertiannya maka kita harus mengerti juga apa saja mitigasi risiko dari berinvestasi saham utamanya dividen investor.

2. Mitigasi Risiko

Dalam berinvestasi saham wajib mengutamakan mitigasi risiko terlebih dahulu sebelum membahas potensi cuan, potensi value atau potensi profit.

Dan mitigasi risiko selalu menjadi pedoman kita di Komunitas.

Apa saja risiko-risiko yang perlu diperhatikan dalam membeli suatu saham?

1. potensi penurunan kinerja perusahaan

Emiten memiliki kinerja yang dirilis setiap kuartal. Dalam setiap kuartal ini kinerja emiten bisa naik bisa turun dan hal tersebut adalah wajar.

Namun kadang tidak bagi bursa saham dimana saat kinerja turun harga sahamnya akan dihantam.

Dengan adanya Harga Panggilan ini kita memitigasi kinerja perusahaan dengan membeli menggunakan perhitungan kinerja perusahaan yang paling pesimis.

Contoh EPS annualised 100, eps TTM 50 maka yang menjadi patokan kita menghitung Harga Panggilan adalah TTM 50.

2. potensi penurunan dividen

Dividen adalah hak prerogatif manajemen atau pengendali sehingga sebagai investor ritel kita hanya ikut apa keputusan RUPS.

Manajemen bisa menaikkan dividen atau menurunkan dividen berdasarkan berbagai macam perhitungan.

Ada yang menurunkan dividen dengan cara menurunkan DPR saja walopun kinerja perusahaan meningkat.

Cth tahun 2024 dengan DPR 50% dividennya Rp 10. Karena tahun ini meningkat kinerjanya tapi manajemen ingin berhemat maka DPR diturunkan menjadi 33% tapi besaran dividen sama yaitu Rp 10. Padahal jika menggunakan DPR 50% potensi dividennya misal tembus Rp 15.

Ada juga yang menurunkan dividen karena memang kinerjanya menurun.

Harga Panggilan disetting supaya bisa menjembatani potensi penurunan besaran dividen.

3. potensi tidak membagikan dividen

Seperti di poin no 2 bahwa pembagian dividen mutlak di tangan manajemen sehingga kita tidak punya kendali apapun selain memilih saham dan membeli di harga berapa.

Termasuk saat kinerja meningkat tetapi manajemen tiba-tiba memutuskan tidak membagi dividen.

Memang ini adalah titik paling amsyong seorang dividen investor…hehehe

4. valuasi atau kinerja saham

Saat jalan-jalan di utas sering melihat teman-teman investor yang dulu membeli saham BBRI di harga 6000 atau BBCA di harga 9000an atau UNVR di harga 3000an atau yang terbaru ASII di harga 6000an

Itu tidak salah karena memang di harga tersebut emiten tetap membagi dividen.

Tetapi sebagai dividen investor ada kekeliruan dimana saat harga tersebut div yieldnya belum ada >8%.

Dengan menggunakan Harga Panggilan kita ada mitigasi beberapa hal yang membuat Harga Panggilan

  • BBRI di 3700
  • BBCA di 4200
  • UNVR di 1000
  • ASII di 4700

Sehingga jikapun harga-harga tersebut tidak tercapai maka kita bisa wait n see atau pindah ke saham lain.

3. Faktor naik turunnya Harga Panggilan

Harga panggilan naik atau turun karena 2 faktor kunci

1. Kinerja perusahaan

2. Kinerja saham

Dan secara umum harga panggilan naik karena kinerja perusahaan saja sedangkan harga panggilan bisa turun karena kinerja perusahaan saja atau kinerja saham saja atau kombinasi keduanya.

4. Cara menentukan Harga Panggilan

Ada 8 pertimbangan saat kami menentukan harga panggilan suatu saham dan nanti kita akan melihat bahwa 1 sifatnya fix yaitu berupa dividen yield dan yang 7 sifatnya subjektif.

8 pertimbangan saat membuat harga panggilan sebagai berikut

1. Dividen yield saat iniĀ 

2. Dividen payout ratio atau DPR

3. Kinerja perusahaan

4. Kondisi perusahaan

5. Makro dan mikro ekonomi

6. Kinerja saham

7. Potensi dividen yield tahun buku berikutnya

8. Angka psikologis

Berikut penjelasan masing-masing item di atas

1. Dividen yield saat ini

Kami akan melanjutkan riset saat suatu emiten sudah terlihat memiliki div yield >8%. Di bawah itu kami skip walopun dividen yieldnya sudah menyentuh angka 7.8%.

Namun yang perlu diketahui adalah kami tidak benar-benar skip emiten tersebut tetapi sudah masuk ke watchlist sambil kita hitung seharusnya emiten ini masuk harga panggilan jika harga sahamnya berapa.

Contoh paling gampang untuk per penutupan bursa saham tanggal 26 Mei 2026 ada saham ACES.

Saat ini harga ACES Rp 346

harga saham ACES

Dan saat melihat di Stockbit dividen yield ACES sudah menyentuh >8% alias 9.79%.

ACES EPS Q1 2026

Artinya ACES sudah mulai masuk watchlist.

Apakah di harga saat ini Rp 346 dan div yield di Stockbit sudah di atas >8% tepatnya 9.79% artinya ACES sudah masuk harga panggilan?

Belum….Kok bisa? Pelan-pelan ya…

2. Dividen payout ratio atau DPR

DPR atau dividen payout ratio adalah persentase laba bersih yang dibagikan sebagai dividen dibanding dengan total laba bersih.

Semakin tinggi DPR yang digunakan maka harga panggilannya akan semakin rendah.

Contoh saham AYAM memiliki DPR 140% maka saat menghitung harga panggilan kami akan menggunakan DPR tahun sebelumnya yang dibawah 100% atau kadang kita menggunakan DPR standar yaitu 90%.

Kembali ke contoh ACES

ACES EPS Q1 2026

Stockbit untuk tahun buku 2025 menampilan dividen sebesar Rp 33.87 dengan DPR 86.71% .

Padahal di tahun buku 2025 ACES belum membagikan dividen. Artinya angka 33.87 di tahun buku 2025 hanyalah biar angkanya sama dengan dividen tahun buku 2024.

Permasalahannya adalah ACES di tahun buku 2024 mendapat dividen 33.87 dengan DPR 65% maka di tahun 2025 kita juga menggunakan asumsi yang sama yaitu DPR 65%.

Sekarang berapa potensi dividen ACES jika menggunakan DPR 65%?

Jawabannya 39.06 x 65 : 100 = 25.38.

Dengan harga 346 dividen yield ACES baru menembus angka 7.3%.

Berapa harga minimal ACES agar tercipta div yield 8%?

25.38 x 100 : 8 = 317 atau kita genapkan 315 (ini angka psikologis…di bagian 7 akan dijelaskan lebih rinci)

Ini hanya sekadar contoh ya teman-teman. Apakah benar-benar harga panggilan ACES di angka 315? Belum tentu. Simak terus artikelnya

3. Kinerja perusahaan

Apalah arti laba bersih maupun DPR jika kita tidak melihat kinerja perusahaan.

Kita harus tau progres kinerja emiten dalam beberapa tahun ke belakang seperti apa.

Jika kinerjanya kecenderungannya naik maka harga panggilan enggak dikurangi.

Namun jika kinerja turun maka akan semakin diturunkan sebagai bentuk mitigasi risiko.

Sekarang kembali ke ACES

kinerja perusahaan ACES

Sejak 2020 kinerja penjualan ACES relatif meningkat tetapi berbanding terbalik dengan laba bersih pemilik entitas induk dimana di tahun 2020 sebesar Rp 733 miliar sedangkan di tahun 2025 justru tinggal Rp 669 miliar padahal kinerja penjualannya Rp 8.6 triliun.

Artinya ada sesuatu yang terjadi di ACES yang perlu ditelusuri lebih lanjut seperti terlihat bahwa laba kotor ACES relatif naik tetapi total beban usaha yang terus meningkat cukup membuat laba usaha ACES kedodoran.

Penelusuran inilah yang nanti akan berpotensi merubah harga panggilan secara subjektif.

Dan kita wajib buka LK untuk melihat lebih detail.

4. Kondisi perusahaan

Setelah melihat kinerja perusahaan maka kita lanjut melihat kondisi perusahaan.

Kondisi perusahaan adalah aset hutang dan modal atau dalam laporan keuangan masuk ke bagian Neraca.

Elemen yang sering saya lihat dalam neraca adalah

  1. Kas dan setara kas
  2. Total hutang
  3. Total hutang jangka pendek
  4. Total hutang bank
  5. Persediaan

Kombinasi kelima hal di atas. Kadang ditambahi yang lain tetapi seringnya 5 hal di atas.

Berikut kondisi perusahaan ACES

kondisi perusahaan ACES

Melihat kas dan setara kas sebesar Rp 2.3 triliuan dan total hutang ACES sebesar Rp 1.9 triliun maka kondisi ACES terhitung aman.

Apakah aman sekali? tentu saja tidak. Tugas kita terus memantau perkembangan bisnis emiten apalagi khusus ACES sedang shifting dari brand Ace Hardware ke brand AZKO.

5. Makro dan mikro ekonomi

Nah untuk makro dan mikro ekonomi teman-teman bisa membaca berbagai situasi terkini di dunia atau berita dalam negeri.

Contoh daya beli yang menurun besar kemungkinan akan merenggut potensi pendapatan ACES.

Atau harga acuan batubara yang sudah naik kisaran 130 tentu akan membuat kinerja perusahaan batubara naik.

Atau pajak kendaraan EV yang disubsidi pasti membuat kendaraan EV makin banyak dan bisa pasti merenggut bisnis otomotif kendaraan bensin walopun mungkin sifatnya masih kecil dan hal ini berpotensi menurunkan kinerja ASII.

6. Kinerja saham

Selanjutnya adalah kinerja saham.

Kinerja saham ini adalah semacam trend yang mau tidak mau harus kita ikuti perkembangannya.

Bukan untuk keluar masuk tetapi untuk menentukan harga panggilan.

Contoh saham perbankan kita sudah menerapkan harga panggilan misal BBRI 3700. Eh ternyata harga BBRI terus turun menyentuh Rp 3000 maka kita juga harus mengupdate harga panggilan sebagai bentuk mitigasi risiko lanjutan dan harga panggilan BBRI menjadi Rp 3000.

Tapi jika kinerja saham naik biasanya harga panggilan tidak kita naikkan.

Harga panggilan naik hanya jika kinerja perusahaan naik tetapi harga panggilan turun karena

  1. Kinerja perusahaan turun dan atau
  2. Kinerja saham turun

7. Potensi dividen yield tahun buku berikutnya

Setelah kita tau dividen yield sebenarnya, DPR yang relatif masuk, kinerja perusahaan, kondisi perusahaan dan terakhir kinerja saham, maka langkah selanjutnya adalah menghitung potensi dividen yield di tahun berikutnya berdasar data terakhir.

ACES EPS Q1 2026

Contoh ACES di tahun buku 2025 atau q1 2026 mendapatkan EPS 9.55. Kita ambil data pesimis yaitu di annualised sebesar Rp 38.21.

Sekarang 38.21 x 65 : 100 = 24.83.

Potensi dividen yield tahun buku 2026 sebesar Rp 24.83. Berapakah harga panggilannya?

24.83 x 100 : 8 = 310.

Harga panggilan ACES 310.

Jika kita bisa dapat di harga 310 dan ACES ternyata membagi dividen di tahun buku 2025 sebesar Rp 25.38 maka div yield kita sebesar 8.18%.

Apakah kita benar-benar akan menggunakan angka 310 sebagai harga panggilan ACES untuk Q1 2026? Sayangnya belum juga karena dengan harga 310 maka div yield ACES hanya 8.01%.

Kita masih butuh mitigasi risiko lebih lanjut dan kita bisa menentukan angka sembaran yang penting di bawah 310 dan saya menulis 304.

8. Angka psikologis

Terakhir adalah angka psikologis.

Angka ini tidak ada rumusnya secara nyata tetapi bisa dirasakan.

Contoh teman-teman milih hold angka berapa 310 atau 312? 318 atau 320?

Kita akan merasa lebih senang dengan angka yang bilangannya relatif gampang diingat yaitu 310 atau 320. Dan angka psikologis ini juga bisa dimasukkan sebagai salah satu kriteria untuk menentukan harga panggilan.

Dibanding 418 mending sekalian 410 atau 420 contohnya.

Seperti ACES kami menulis 304 tetapi kalian bisa saja sekalian menunggu di harga 300.

Itulah materi terkait harga panggilan yang menjadi trademark Komunitas Dividen Investing ID.

Teman-teman bisa menggunakan panduan di atas untuk menentukan harga panggilan masing-masing emiten.

Tapi kalo malah pusing dan justru membuat pekerjaan teman-teman terganggu maka kami bisa membantu teman-teman dengan cara klik DISINI

Teman-teman akan mendapat

  • nama saham
  • harga panggilan
  • update terbaru harga panggilan berdasar kinerja perusahaan dan kinerja saham
Visited 1,280 times, 19 visit(s) today

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *